8 Des 2009

Mintalah Apa Saja, Dia Mendengarmu!


Saya sadar betul Dia Maha Tahu, Maha Mendengar apa yang ada dalam qalbu hamba-Nya. Tetapi terkadang bahkan sering realita yang tidak sesuai harapan membuat saya bertanya, “Kau ada tidak, Tuhan?”. Kemudian saya akan beristighfar karena menyadari bahwa itu pertanyaan yang bodoh dan egois. Ketika saya sendiri, saya merasakan semua yang ada pada saya dan lingkungan saya adalah pemberian-Nya.

Banyak hal-hal kecil yang mungkin bagi banyak orang beitu sepele tetapi bagi saya begitu besar artinya. Sering ketika saya menginginkan sesuatu dan saya sangat merindukannya, tiba-tiba Allah SWT menghendaki sesuatu itu datang pada saya. Subhanallah. Padahal saya sering merasa bukan seorang muslim yang baik.

Ketika saya masih SMP, orangtua saya pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Haji. Saya ditinggal dengan dua orang kakak, seoran adik dan saudara-saudara. Suatu hari saya ingin sekali makan dengan kerupuk. Toko kami sudah lama tidak dibuka dan barang-barang di dalamnya sudah mulai habis. Tidak ada seorangpn yang tahu saya ingin makan kerupuk. Tiba-tiba ada seorang lelaki penjual kerupuk menawarkan untuk menitipkan dagangannya tanpa dibayar dahulu. Biasanya penjual kerupuk menyimpan dagangannya di toko kami dan langsung dibayar karena harganya tidak seberapa. Sedangkan kami tidak memegang uang untuk operasional toko karena orangtua memang tidak mengamanatkan dan toko tidak pernah dibuka saat orangtua pergi Haji. Uang yang ada hanya untuk makan sehari-hari dan shalawatan setiap malam.

Tetapi karena penjual kerupuk itu memaksa dan berjanji akan datang lagi, kami pun menerimanya. Alhamdulillah hari itu saya bisa makan dengan kerupuk dan orang itu tidak pernah datang lagi padahal kami sudah menyiapkan uangnya. Dalam hati saya bertanya, Allahkah yang mengirim orang itu. Tapi saya tepis lagi pikiran seperti itu. Mana mungkin, saya bukan wali, Nabi atau orang Shalih, saya hanya manusia biasa yang banyak khilafnya.

Di lain waktu ketika saya kuliah, saya mengalami kanker (kantong kering) pada akhir bulan. Dalam hati saya berharap Allah mengenyangkan saya atau membuat keajaiban lain sehingga saya terhindar dari berhutang pada teman atau menelepon orangtua untuk mengirimi saya uang sebelum waktunya. Walaupun itu tidak dilarang, saya hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Alhamdulillah, ada seorang teman yang tiba-tiba membayar hutangnya padahal saya sudah tidak mengingatnya lagi.

Di lain kesempatan, saya ingin sekali mempunyai buku agenda supaya saya bisa mencatat kegiatan saya atau mencurahkan isi hati saya ketika saya tidak mendapati orang lain untuk curhat. Tapi saya pikir lain kali saja karena kebutuhan saat itu lebih mendesak untuk hal lain daripada sebuah buku agenda. Subhanalllah, tiba-tiba tiga orang teman saya datang dan mengucapkan selamat milad pada saya. Sebuah bungkusan berisi buku agenda dan sebuah pigura cantik diserahkan pada saya. Alhamdulillah.

Hal-hal kecil itu begitu terasa istimewa karena saya tidak berupaya mendapatkannya namun tiba-tiba ada di depan mata. Tetapi justru hal kecil itulah yang membuat kerinduan di hati saya untuk bersua dengan-Nya. Saya ingin setiap hal yang saya lakukan pun akan istimewa di hadapan-Nya meski sulit dan banyak rintangan yang menghalangi. Adakah saya akan bertemu dengan-Mu dengan kondisi yang paling baik, Tuhanku?
penuis KhairA.